Lynx berdiri tanpa bergerak, namun pikirannya masih terus terusik oleh sebutan “iblis” yang keluar dari mulut para kultivator di hadapannya. Rasa kecewa karena reaksi lawan tidak sesuai dengan harapannya.

Ia menoleh ke belakang, mencari sosok pria yang tadi sempat ia selamatkan, namun tak menemukannya. “Ke mana orang itu pergi? Aku bahkan tidak sadar saat dia menghilang. Hmph… lupakan saja. Dia tidak mungkin bisa pergi jauh. Jika dia mencoba memasuki wilayahku lagi, aku pasti mengetahuinya.”

Pandangan Lynx kemudian menyapu para Master Foundation yang masih terpaku di tempat. Mata merahnya berpendar tajam di balik kabut tipis yang menyelimuti hutan. Meski sikap diamnya perlahan membuat mereka mulai mengendalikan napas, tubuh para kultivator itu masih bergetar hebat.

“Aneh… apa yang membuat mereka begitu takut hanya karena melihatku? Mereka bukan orang biasa, mereka adalah kultivator. Seharusnya mental mereka ditempa untuk tidak mudah gentar,” pikir Lynx sambil mengerutkan alis.

Lynx lalu memandang ke arah lain. Seorang Grandmaster terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya bersama para Master Foundation yang sebelumnya melarikan diri. Aura tekanan spiritualnya bergelombang di udara, memaksa dedaunan di sekitarnya terhempas. Ia sudah mendengar cerita dari anak buahnya mengenai kemunculan iblis. Grandmaster itu mengepalkan tangan, wajahnya mengeras.

“Bodoh kalian semua!” suaranya meledak saat tiba. “Sebagai kultivator keluarga Baihuan, mati di medan perang adalah kehormatan. Tapi lari dari musuh adalah noda yang tak akan hilang!”

Grandmaster melesat ke arah yang ditunjukkan oleh bawahannya. Selain itu dia juga bisa merasakan aura spiritual anak buahnya dari arah yang di tuju. "Bagus. Ternyata masih ada anak buahku yang pemberani. Tidak ikut melarikan diri dari lawan yang lebih kuat." Katanya dengan suara pelan.

Pemimpin menyadari, kehadiran iblis menandakan musuh yang menyerang keluarga mereka ada di tempat ini. Meski hatinya sendiri diliputi keraguan, terutama soal iblis yang disebut anak buahnya, ia tahu harus bertindak. Iblis yang menyerang keluarga Baihuan dulu adalah mimpi buruk, makhluk itu memiliki efek tidak langsung menyerang dan melukai jiwa para kultivator bahkan membuat mereka merasa mimpi buruk. Mereka semua yang melihatnya mengalami rasa takut yang tidak bisa dijelaskan meskipun waktu telah lama berlalu.

Langkahnya mendadak terhenti saat pandangannya menangkap Lynx berdiri di depan para anak buahnya. Otot rahangnya menegang.

“…Makhluk apa ini?” gumamnya nyaris tak terdengar.

Salah satu anak buah yang datang bersamanya maju tergesa, menunjuk Lynx dengan jari gemetar. “P-Pimpinan… dia… dialah iblis yang kami maksud… Dia menghalangi kami menangkap pria tadi.”

Tatapan Grandmaster menyipit. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyuman, melainkan keyakinan yang mengeras. “Kalian bodoh. Apa kalian tidak bisa membedakan? Dia bukan iblis yang menyerang tempat kita.”

“Tapi pimpinan… matanya...”

“Diam! Kalian lihatlah! Iblis atau bukan, dia akan mati di tanganku!”

Tanpa aba-aba, tubuhnya menghilang dari pandangan, ledakan tanah menghantam udara di tempat ia berdiri. Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di hadapan Lynx. Pusaran cahaya kemerahan menyelimuti telapak tangannya, berputar cepat hingga udara bergetar seperti badai petir yang menelan hutan.

“Heavenly Iron Palm!”

Telapak tangan itu menghantam dengan kekuatan seperti gunung runtuh. Gelombang kejut menghancurkan pepohonan di sekitarnya, debu dan tanah beterbangan. Suara gemuruh mengguncang udara. Namun… tubuh Lynx sama sekali tidak bergerak. Tidak ada bekas serangan. Debu mereda, dan ia masih berdiri di tempat yang sama.

“Tidak… tidak mungkin…” bisik salah seorang Master Foundation dengan mata terbelalak.

Grandmaster mendesis marah. Serangan yang menggunakan sebagian besar kekuatannya tak memberi hasil. “Serang bersama! SEKARANG!”

Para Master Foundation saling menatap, ketakutan, namun terpaksa maju. Tebasan qi membelah udara, tombak energi melesat, cambuk petir menyambar dari langit, dan beberapa teknik mendarat bersamaan, membentuk badai kekuatan yang menyilaukan mata. Ledakan berturut-turut mengguncang tanah. Namun saat cahaya memudar… Lynx tetap di sana. Tidak bergeser bahkan setengah langkah.

“Pimpinan… ini gila… dia… dia memang iblis…” bisik salah satu.

“Kita harus pergi! Sekarang!” teriak yang lain dengan panik.

Grandmaster memandang Lynx, rasa takut perlahan menyusup ke suaranya. “Siapa kamu sebenarnya?”

“Pergilah! Aku Plasura. Penguasa wilayah ini. Kalian sudah memasuki wilayahku. Untuk kali ini aku akan memaafkan kalian. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian. Pergi dan jangan kembali ke tempat ini.” Lynx melangkah perlahan mendekat.

"Pergi? Kami memang tidak punya urusan dengannya. Tetapi jika Ketua tahu kami melarikan diri dari seorang lawan, dan membiarkan orang yang sudah membunuh anggota dibiarkan lepas, Ketua pasti tidak akan membiarkan dan menghukum kami… " batin Grandmaster. Namun rasa takutnya semakin besar. Dalam satu serangan saja, ia sudah tahu kekuatannya tak cukup menghadapi sosok ini.

“Plasura. Kita memang tidak punya urusan, tapi kenapa kamu menghalangi kami? Kami harus menangkap pria tadi.” tanyanya, pedang terangkat siap bertahan maupun menyerang.

“Menangkap? Kalian sebagai kultivator ingin menyakiti orang biasa yang tidak bisa berkultivasi. Aku tidak ingin kalian menyakiti manusia biasa di wilayahku. Pergilah!” ulang Lynx.

Wajah Grandmaster mengeras."Manusia biasa katamu? Dia sudah membunuh beberapa orang anak buahku. Serahkan pria itu atau kami tidak akan melepaskanmu."

Lynx menyipitkan matanya, "Orang tadi...Jelas-jelas aku tidak merasakan qi spiritual di tubuhnya. Bagaimana mungkin bisa membunuh rekan mereka. Tapi... manusia biasa bagaimana mungkin bisa muncul di tempat ini. Sepertinya aku sudah salah paham dengan mereka." Batinnya. Dia mengedarkan qi spiritualnya untuk mencari jejak pria tersebut namun sudah tidak berhasil di temukan.

Pimpinan Baihuan melihat sosok di depannya hanya diam, segera meraih batu formasi di pinggangnya dan menghancurkannya. Retakan energi biru menyebar dari batu itu, udara di sekitarnya bergetar. "Terpaksa… Aku tidak bisa menghadapinya. Aku harus meminta bantuan ketua."

Teriakan kesakitan tiba-tiba pecah dari mulutnya. Aura spiritualnya berguncang liar. Matanya yang semula hitam kini menyala merah pekat, tatapannya menusuk hingga membuat udara di sekitar terasa dingin. Bibirnya melengkung seperti seseorang yang baru bangkit dari tidur panjang.

Para Master Foundation tertegun. “Pimpinan…? Apa yang terjadi?”

Lynx memandang tajam, hatinya bergejolak. Aura gelap yang membungkus tubuh Grandmaster terasa begitu familiar. Tekanan spiritual pria tersebut melonjak, ranah kekuatannya tidak mengalami perubahan namun Lynx bisa merasakan kekuatan yang dimiliki sosok didepannya sudah meningkat drastis.

“A… Apa yang kamu lakukan? Iblis… lepaskan pimpinan kami!” teriak salah seorang anak buah. Mereka yakin sosok iblis di depan mereka yang bertanggung jawab.

Lynx memandang dengan bingung dan penasaran. "Kenapa mereka menuduhku? Dimana aku merasakan perasaan ini?" Dia hanya diam menunggu apa yang sedang terjadi.

Setelah beberapa saat kemudian, aura membunuh pimpinan mereka semakin pekat dan menekan ke sekitar area. Para master foundation yang awalnya cemas dan menuduh Lynx yang melakukan sesuatu terhadap pimpinan mereka kita menyadari sesuatu hal. Aura yang familiar, tatapan mata yang dingin dan menusuk.

“Ini aura Ketua Monrest… bagaimana mungkin?” bisik salah satu.

"Benar, tidak salah lagi. Ini aura ketua kita."

Para Master Foundation saling berbisik dan menatap ke arah pimpinan. Walaupun mereka tidak bisa merasakan ranah kekuatan pemimpin mereka, aura kegelapan yang hanya di miliki oleh ketua Keluarga Baihuan sangat mereka kenali.

Dan sesuai perkiraan mereka, orang yang ada di hadapan mereka kini bukan lagi pimpinan sebelunya, namun sosok yang berdiri di depan mereka adalah Monrest. Saat Pemimpin menghancurkan batu formasi dan mengirimkan sinyal bahaya kepada ketua mereka, Monrest menggunakan kekuatan jiwanya untuk merasuki tubuh pimpinan tersebut. Namun kelemahan teknik tersebut, kekuatan yang dapat digunakan kurang dari separuh kekuatan aslinya. Tetapi dengan kekuatan yang terbatas, Monrest yakin sudah cukup mengalahkan para kultivator yang ada di dunia ini.

"Siapa kamu?" Monrest memandang ke arah Lynx. Dia memperhatikan kaki hingga ujung kepala. Penampilannya sangat berbeda dengan penduduk dunia ini. Dengan mata merah besar seperti menyala dan pakaian dari bahan yang asing, berwarna hitam dan hijau. “Ranah Immortal akhir…” gumamnya dalam hati.

